1.
Definisi al-Hawalah, pensyariatan al-Hawalah,
dan rukun
2.
Syarat-syarat al-Hawalah.
3.
Hukum-hukum al-Hawalah.
4.
Berakhir dan selesainya akad al-Hawalah.
5.
Pihak al-Muhaal ‘alaihi meminta ganti
kepada al-Muhiil.
1.
DEFINISI AL-HAWALAH
Al-Hawalah secara bahasa artinya adalah al-Intiqool
(pindah), Sedangkan secara istilah, definisi al-Hawalah menurut
ulama Hanafiyyah adalah memindah (an-Naqlu) penuntutan atau penagihan
dari tanggungan pihak yang berutang (al-Madiin) kepada tanggungan pihak al-Multazim
(yang harus membayar hutang, dalam hal ini adalah al-Muhaal ‘alaihi).
2.
pensyariatan al-Hawalah
Adapun dasar pensyariatan pensyariatan al-Hawalah dari Sunnah adalah
sabda Rosulullah saw. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi,
مَطْلُ الغَنِيِّ ظُلْمٌ وَ إِذَا أُتْبِعَ أَحَدُكَمْ على
مَلِيئِ فَلْيَتْبَعْ
‘Sikap menunda-nunda pembayaran utang oleh
orang yang mampu adalah sebuah kezholiman. Dan apabila salah seorang di
antara kamu sekalian dialihkan kepada orang yang mampu, maka hendaklah ia
menerima (maksudnya menerima akad pensyariatan al-Hawalah tersebut).”
3.
rukun al-Hawalah
a.
rukun al-Hawalah menurut ulama Hanafiyah adalah,
1.
ijab dari pihak al-Muhiil,
2.
qobul dari pihak al-Muhaal (al Muhtaal)
dan al-Muhaal ‘alaihi dengan bentuk-bentuk perkataan tertentu.
Mayoritas
ulama menambahkan; adanya keridhoan dari pihak al-muhaal.
b. menurut jumhur selain ulama Hanafiyyah memiliki 6
enam rukun atau elemen, yaitu,
1.
al-Muhiil atau pihak yang berutang (al-Madiin) kepada
pihak al-Muhaal.
2.
Al-Muhaal atau juga disebut al-Muhtaal dan al-Hawiil, yaitu pihak
yang berpiutang atau dengan kata lain pihak yang memberi utangan kepada al-Muhiil.
3.
Al-Muhaal ‘alaihi atau juga disebut al-Muhtaal ‘alaihi, yaitu
pihak yang berkeharusan untuk membayar utang kepada pihak al-Muhaal.
4.
Al-Muhaal bihi atau al-Muhtaal bihi, yaitu utang pihak al-Muhiil
kepada pihak al-Muhaal dan utang pihak al-Muhaal ‘alaihi kepada
pihak al-Muhiil.
5.
SYARAT-SYARAT AL-HAWALAH
Syarat-syarat tersebut ada yang untuk pihak al-Muhiil, ada yang
untuk pihak al-Muhaal, ada yang untuk pihak al-Muhaal ‘alaihi, dan
ada yang untuk al-Muhaal bihi.
a.
SYARAT-SYARAT AL-MUHIIL
Ada 2 syarat untuk al-Muhiil seperti
berikut,
1. Ia harus memiliki
kelayakan dan kompetensi (al-Ahliyyah) untuk mengadakan akad, yaitu ia
adalah orang yang berakal dan baligh.
2.
Ridho dan persetujuan al-Muhiil,
b.
SYARAT-SYARAT
AL-MUHAAL
Ada tiga
syarat yang harus dipenuhi dalam kaitannya dengan pihak al-Muaal, yaitu,
1. Ia harus orang
yang memiliki kelayakan dan kompetensi mengadakan akad, sama dengan syarat
pertama pihak al-Muhiil,
2. Ridho dan persetujuan al-Muhaal.
3. Qobul yang diberikan oleh pihak al-Muhaal harus
dilakukan di majlis al
hawalah
c.
SYARAT-SYARAT AL-MUHAAL ‘ALAIHI
Syarat-syarat
al-Muhaal ‘alaihi sama dengan syarat-syarat al-Muhaal, yaitu;
1.
Ia harus orang yang memiliki kelayakan dan
kompetensi untuk mengadakan akad, yaitu ia harus berakal dan baligh.
2.
Ridho pihak al-Muhaal ‘alaihi.
3.
Qobulnya pihak al-Muhaal ‘alaihi harus
dilakukan di majlis akad al hawalah
d.
SYARAT-SYARAT AL-MUHAAL BIHI
1. Al-Muhaal bihi harus berupa ad-Dain (harta yang
berupa hutang),
2. Tanggungan utang
yan ada sudah positif dan bersifat mengingakat (laazim)
6.
DUA BENTUK AL-HAWAALAH MENURUT ULAMA HANAFIYYAH
Al-Hawaalah ada dua macam, yaitu mutlak dan muqoyyad.
1.
al-Hawaalah yang berbentuk mutlak
yaitu, akad al-Hawaalah yang pihak al-Muhiil tidak
memberikan keterangan bahwa yang ia maksudkan adalah tanggungan utang pihak al-Muhaal
‘alaihi kepada dirinya (al-Muhiil), dan pihak al-Muhaal ‘alaihi pun
menerima dan setuju dengan akad al-Hawaalah tersebut.
2.
al-Hawaalah
yang berbentuk muqoyyad
yaitu, ...... akad al-Hawaalah yang pihak al-Muhiil memberikan keterangan
bahwa yang ia maksud adalah tanggungan utang pihak al-Muhaal ‘alaihi kepadanya
(pihak al-Muhiil).
7.
HUKUM-HUKUM AL-HAWALAH
Al hawalah memiliki beberapa konsekuensi hukum seperti berikut,
1.
pihak al-muhiil tebebas dari tanggungan utang yang
ada (al-Muhaal bihi).
2.
Tertetapkannya kewenangan penagihan bagi pihak al-Muhaal kepada pihak al-muhaal
‘alaihi terhadap utang yang berada di dalam tanggungannya.
3.
Al-Hawalah yang ada adalah bentuk mutlak, maka
jika pihak al-Muhaal terus menekan dan membuntuti pihak al-Muhaal ‘alaihi, maka
pihak al-Muhaal ‘alaihi juga boleh melakukan hal yang sama (menetapkan hak yang
sama) terhadap al-Muhiil agar ia bisa terbebas dari penekanan dan penuntutan
pihak al-Muhaal.
8.
SELESAI DAN BERAKHIRNYA AL HAWALAH
Al hawalah berkahir dan dianggap selesai dengan beberapa hal, yaitu,
1.
Adanya pembatalan dan penganuliran (al-faskh)
terhadap akad al hawalah.
2.
Jika terjadai at-Tawaa yang menimpa hak
al-Muhaal dengan meninggalnya pihak
al-Muhaal ‘alaihi atau jatuh pailit atau yang lainnya.
3.
Pihak al Muhaal ‘alaihi telah menyerahkan
pembayaran utang kepada pihak al Muhaal.
4.
Pihak al-Muhaal meninggal dunia dan pihak al
Muhaal ‘alaihi adalah sebagai pewarisnya yang mewarisi al-Muhaal bihi yang ada.
5.
Pihak al Muhaal menghibahkan hutang yang ada
kepada pihak al-Muhaal ‘alaihi dan ia pun menerima hibah tersebut.
6.
Pihak al-Muhaal menshedekahkannya kepada pihak
al-Muhaal ‘alaihi dan ia pun menerima sedekah tersebut.
7.
Pihak al –Muhaal membebaskan pihak al Muhaal
‘alaihi dari tanggungan.
9.
RUJUU’ ATAU PIHAK AL-MUHAAL ‘ALAIHI MEMINTA GANTI
KEPADA PIHAL AL-MUHIIL
Adapun syarat-syarat ar-rujuu’ adalah sebagai berikut,
1.
Akad al hawalaha yang ada berdasarkan perintah dan
permintaan pihak al-Muhiil.
2.
Al-Muhaal ‘laihi telah membayar utang yang ada,
atau terjadi sesuatu yang semakna dengan pembayaran, seperti utang itu
dihibahkan atau disedekahkan kepada al-Muhaal ‘alaihi dan ia menerima hibah
atau sedekah tersebut.
3.
Pihak al-Muhaal ‘alaihi tidak memiliki tanggungan
utang kepada pihak al-Muhiil yang menyamai tanggungan utang pihak al-Muhiil
kepada pihak al-Muhaal.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar