Selasa, 25 September 2012

Mutiara wanita


Woman was made from the rib of man, She was not created from his head to top him, Not from his feet to be stepped upon, She was made from his side to be close to him, From beneath his arm to be protected by him, Near his heart to be loved by him.

Bagaimana perasaan seorang pria jika dikelilingi banyak wanita? Jika pertanyaan itu disodorkan kepada saya, maka ungkapan “bangga” nampaknya cukup mewakili perasaan saya. Saya senang setiap hari dikelilingi wanita cantik, shalihah pula. Dan tentu pada saat itu saya semakin merasa menjadi ‘pangeran’. Ups, jangan curiga dulu, karena wanita-wanita cantik nan shalihah yang saya maksud adalah istri dan dua anak saya yang keduanya ‘kebetulan’ wanita. Insya Allah.

Tidak hanya itu, sebelum saya menikah, saya juga lebih banyak disentuh oleh wanita, yakni ibu karena semenjak usia enam tahun saya memilih untuk ikut ibu saat ia bercerai dengan ayah. Sebuah naluri kedekatan anak terhadap ibunya yang tidak sekedar karena telah menghisap ratusan liter air susu ibunya, melainkan juga ikatan bathin yang tak bisa terpisahkan dari kehangatan yang senantiasa diberikan seorang ibu terhadap anaknya.

Karena itulah, dalam hidup saya tidak ingin berbuat sesuatu yang sekiranya dapat mengecewakan dan melukai seorang wanita. Namun sikap yang tepat dan bijak harus diberikan seorang pria mengingat wanita itu terbuat dari tulang rusuk yang bengkok, yang apabila terdapat kesalahan padanya, pria harus berhati-hati meluruskannya. Terlalu keras akan mematahkannya, dibiarkan juga salah karena akan tetap pada kebengkokannya. Meski demikian, tidak sedikit pria harus membiarkan wanita kecewa demi meluruskan kesalahan itu, toh setiap pria yang melakukan itu pun sangat yakin bahwa kekecewaan itu hanya sesaat kerena selanjutnya akan berbuah manis.

Wanita itu ibarat bunga, yang jika kasar dalam memperlakukannya akan merusak keindahannya, menodai kesempurnaannya sehingga menjadikannya layu tak berseri. Ia ibarat selembar sutra yang mudah robek oleh terpaan badai, terombang-ambing oleh hempasan angin dan basah kuyup meski oleh setitik air. Oleh karenanya, jangan biarkan hatinya robek terluka karena ucapan yang menyakitkan karena hatinya begitu lembut, jangan pula membiarkannya sendirian menantang hidup karena sesungguhnya ia hadir dari kesendirian dengan menawarkan setangkup ketenangan dan ketentraman. Sebaiknya tidak sekali-kali membuatnya menangis oleh sikap yang mengecewakan, karena biasanya tangis itu tetap membekas di hati meski airnya tak lagi membasahi kelopak matanya.

Wanita itu mutiara. Orang perlu menyelam jauh ke dasarnya untuk mendapatkan kecantikan sesungguhnya. Karenanya, melihat dengan tanpa membuka tabir hatinya niscaya hanya semu sesaat yang seringkali mampu mengelabui mata. Orang perlu berjuang menyusur ombak, menahan arus dan menantang semua bahayanya untuk bisa meraihnya. Dan tentu untuk itu, orang harus memiliki bekal yang cukup sehingga layak dan pantas mendapatkan mutiara indah itu.

Wanita itu separuh dari jiwa yang hilang. Maka orang harus mencarinya dengan seksama, memilihnya dengan teliti, melihat dengan hati-hati sebelum menjadikannya pasangan jiwa. Karena jika salah, ia tidak akan menjadi sepasang jiwa yang bisa menghasilkan bunga-bunga cinta, melainkan noktah merah menyemai pertikaian. Ia tak akan bisa menyamakan langkah, selalu bertolak pandang sehingga tak memberikan kenyamanan dan keserasian. Ia tak mungkin menjadi satu hati meski seluruh daya dikerahkan untuk melakukannya. Dan yang jelas ia tak bisa menjadi cermin diri disaat lengah atau larut.

Wanita memiliki kekuatan luar biasa yang tak pernah dipunyai lawan jenisnya dengan lebih baik. Yakni kekuatan cinta, empati dan kesetiaan. Dengan cintanya ia menguatkan langkah orang-orang yang bersamanya, empatinya membangkitkan mereka yang jatuh dan kesetiaannya tak lekang oleh waktu, tak lebur oleh perubahan.

Dan wanita adalah sumber kehidupan. Yang mempertaruhkan hidupnya untuk sebuah kehidupan baru, yang dari dadanya dialirkan air susu yang menghidupkan. Sehingga semua pengorbanannya itu layak menempatkannya pada kemuliaan surga, juga keagungan penghormatan. Tidak berlebihan pula jika Rasulullah menjadi seorang wanita (Fathimah) sebagai orang pertama yang kelak mendampinginya di surga.

Untung saya bukan penyanyi ngetop yang menjadikan wanita dan cintanya sebatas syair lagu demi meraup keuntungan. Sehingga yang tampak dimata hanyalah wanita sebatas bunga-bunga penghias yang bisa dicampakkan ketika tak lagi menyenangkan. Kebetulan saya juga bukan bintang sinetron yang kerap diagung-agungkan wanita. Karena kalau saya jadi mereka, tentu ‘kebanggaan’ saya dikelilingi wanita cantik bisa berbeda makna dengan kebanggaan saya sebagai seorang yang bukan siapa-siapa.

Bagusnya juga wanita-wanita yang mendekati dan mengelilingi saya bukanlah mereka yang rela diperlakukan tidak seperti bunga, bukan selayaknya mutiara dan tak selembut sutra. Bukan wanita yang mencampakkan dirinya sendiri dalam kubangan kehinaan berselimut kemewahan dan tuntutan zaman. Tidak seperti wanita yang rela diinjak-injak kehormatannya, tak menghiraukan jerit hatinya sendiri, atau bahkan pertentangan bathinnya. Juga bukan wanita yang membunuh nuraninya sendiri sehingga tak menjadikan mereka wanita yang pantas mendapatkan penghormatan, bahkan oleh buah hatinya sendiri.

Dan sudah pasti, selain tak ada wanita-wanita macam itu yang akan mendekati lelaki bukan siapa-siapa seperti saya ini, saya pun tentu tidak akan betah berlama-lama berdekatan dengan mereka, apalagi bangga. Semoga …

OASE IMAN
Nak, mentari baru telah terbit, 07 September 2012 sepuluh tahun sudah usiamu. Ayah dan Ibu bersyukur dapat mengantarmu hingga hari ini. Semoga Alloh SWT senantiasa berkenan membimbing Ayah dan Ibu dalam mendidikmu, hingga Ayah dan Ibu tak salah langkah.

Tak seperti hari-hari ulang tahunmu yang lalu, yang pada saat itu Ayah dan Ibu hanya memberi tahumu bahwa hari itu hari lahirmu, dan mengajakmu untuk bersyukur kepada-Nya atas nikmat yang telah dilimpahkan kepada kita. Hari itu ….. Ayah dan Ibu telah menyiapkan sebuah bingkisan istimewa untukmu, berupa seperangkat alat sholat. Ayah dan Ibu tak bermaksud mengajarkan kepadamu merayakan hari ulang tahun dengan memberikan bingkisan itu, karena Rasululloh-pun tak pernah mengajarkannya kepada kita.

Ayah dan Ibu memberikan bingkisan tersebut tak lain kecuali untuk berwasiat kepadamu, bahwa pada usiamu yang telah sepuluh tahun Rasululloh telah berpesan kepada Ayah dan Ibu tentang dirimu. Beliau membolehkan Ayah dan Ibu memukulmu bila kau tak sholat sejak usia itu. Itu artinya, usia sepuluh tahun bukanlah usia main-main lagi. Usia sepuluh tahun akan menjadi tonggak ketaatanmu untuk menjalankan segala perintah-Nya, sehingga ketika kau tak mau menjalankan perintah-Nya kau boleh diberi hukuman.

Nak, Ayah dan Ibu tak ingin sekalipun memukulmu. Karenanya…..ingat-ingatlah di hatimu yang paling dalam, bahwa sholat adalah salah satu kewajiban yang harus kau jalankan. Sholat pula yang menjadi pembeda antara seorang muslim dan orang yang kafir. Sholat pulalah yang akan dapat menjadi penolongmu. Sholat pulalah amal yang akan dihisab pertama kali di yaumil akhir nanti. Sholatlah yang akan dijadikan penentu baik buruknya amal perbuatan kita. Maka dari itu, kau harus berusaha sekuat tenaga untuk dapat memelihara sholatmu dalam kondisi apapun dan dimanapun.

Ayah dan Ibu bangga padamu, bahwa diusiamu yang masih demikian belia kau telah mampu memelihara sholatmu yang lima waktu walau kini kita hidup di negri orang dan dalam lingkungan yang sangat tidak mendukung.

Ada rasa syukur tersendiri dalam hati Ayah dan Ibu, ketika di musim panas yang baru lalu, kau mau kami bangunkan jam tiga dini hari untuk menjalankan sholat fajar, walau kadang kau tertidur di sujud terakhirmu, karena tidurmu masih belum cukup. Ayah dan Ibu berharap, kebiasaamu bangun subuh dapat terpelihara, dan meningkat kepada bangun sebelum subuh untuk belajar sholat malam. Hingga dirimu terpelihara oleh-Nya.

Nak, maafkan Ayah dan Ibu, karena hingga kini Ayah dan Ibu belum mampu memberikan yang terbaik untukmu. Maafkan pula perlakuan Ayah dan Ibu yang kadang membuatmu sakit hati. Ayah dan Ibu hanya ingin menjadikanmu anak yang sholihah, yang berbakti kepada orang tua, taat kepada Alloh, dapat membedakan yang haq dan yang bathil, dan mampu melaksanakan segala kebaikan.

Masih banyak memang cita-cita yang belum berhasil Ayah dan Ibu laksanakan, namun Ayah dan Ibu optimis. Waktu kedepan masih panjang dan luas, harapanpun terhampar didepan mata. Semoga langkah kita selalu dalam bimbingan-Nya. Aamiin.

Untuk anakku sayang, yang kini telah berusia sepuluh tahun

Cinta Ini Milikmu Ummi
Eramuslim.com | Media Islam Rujukan,
Oleh : farah Adibah
“Farah, bangun… udah azan subuh. Sarapanmu udah Ummi siapin di meja…” Tradisi ini sudah berlangsung 26 tahun, sejak pertama kali aku bisa mengingat. Kini usiaku sudah kepala 3 tapi kebiasaan ibuku tak pernah berubah. “Ummi sayang… ga usah repot-repot mi, aku dan adik-adikku udah dewasa.” pintaku padanya pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah. Pun ketika Ummi mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-buru kukeluarkan uang dan kubayar semuanya.

Ingin kubalas jasanya selama ini dengan hasil keringatku. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan. Kenapa ibuku mudah sekali sedih ? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahaminya karena dari sebuah artikel yang kubaca .. orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan cenderung untuk bersikap kanak-kanak … tapi entahlah…. Niatku ingin membahagiakan malah membuat ibuku sedih. Seperti biasa, Ummi tidak akan pernah mengatakan apa-apa.

Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya “Mi, maafin aku kalau telah menyakiti perasaan Ummi. Apa yang bikin Ummi sedih ?” Kutatap sudut-sudut matanya, ada genangan air mata di sana. Terbata-bata Ummi berkata, “Tiba-tiba Ummi merasa kalian tidak lagi membutuhkan Ummi lagi . Kalian sudah dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Ummi tidak boleh lagi menyiapkan sarapan untuk kalian, Ummi tidak bisa lagi jajanin kalian. Semua sudah bisa kalian lakukan sendiri” Ah, Ya Allah, ternyata buat seorang Ibu .. bersusah payah melayani putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan. Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya. Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orang tua menjadi sedih karena kita tidak berusaha untuk saling membuka diri melihat arti kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing.

Diam-diam aku bermuhasabah… Apa yang telah kupersembahkan untuknya dalam usiaku sekarang ? Adakah ibuku bahagia dan bangga pada putera putrinya ? Ketika itu kutanya padanya. Ummi menjawab “Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kalian berikan pada Ummi. Kalian tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan. Kalian berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat Ummi. Setelah dewasa, kalian berprilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu kebahagiaan buat Ummi. Setiap kali binar mata kalian mengisyaratkan kebahagiaan di situlah kebahagiaan orang tua.” 

Lagi-lagi aku hanya bisa berucap “Ampunkan aku ya Allah kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada ibuku . Masih banyak alasan ketika ibuku menginginkan sesuatu.”

Betapa sabarnya ibuku melalui liku-liku kehidupan. Sebagai seorang wanita karier seharusnya banyak alasan yang bisa dilontarkan ibuku untuk “cuti” dari pekerjaan rumah atau menyerahkan tugas itu kepada pembantu. Tapi tidak! ibuku seorang yang idealis, menata keluarga, merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan bisa dilimpahkan kepada siapapun. Pukul 3 dinihari Ummi bangun dan membangunkan kami untuk tahajud. Menunggu subuh Ummi ke dapur menyiapkan sarapan sementara aku dan adik-adik sering tertidur lagi… Ah, maafin kami Ummi … 18 jam sehari sebagai “pekerja” seakan tak pernah membuat Ummi lelah.. Sanggupkah aku ya Allah ?

“Farah… bangun nak, udah azan subuh .. sarapannya udah Ummi siapin di meja.. “ Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul Ummiku sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya lekat-lekat dan kuucapkan “terimakasih Ummi, aku beruntung sekali memiliki ibu yang baik hati, ijinkan aku membahagiakanmu Ummi… ”. Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan…

Cintaku ini milikmu, Ummi… Aku masih sangat membutuhkanmu… Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat dirimu..

Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat “aku sayang padamu… “, namun Rasulullah menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai karena Allah. Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita … ibu dan ayah walau mereka tak pernah meminta. Percayalah… kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan bahagia. Wallaahu a’lam

“Ya Allah,cintai Ummiku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakannya .. dan jika saatnya nanti Ummiku Kau panggil, panggillah dalam keadaan khusnul khatimah. Titip Ummiku Ya Rahman”

 
 
Untuk semua Ibu yang mencintai anak-anaknya dan semua anak yang mencintai Ibunya


Tidak ada komentar:

Posting Komentar