Kemudian
mereka diingatkan terhadap apa yang mereka kehendaki buat diri mereka
dari kafilah dan harta rampasan itu. Juga kemenangan dan peperangan yang
Allah kehendaki buat mereka. Diingatkan pula bagaimana jalannya
peperangan itu, padahal jumlah mereka sedikit dan persiapannya tidak
memadai. Sedangkan musuh mereka banyak jumlahnya dan persiapannya
memadai.
Selain
itu, mereka diingatkan bagaimana Allah memantapkan mereka dengan
memberikan pertolongan dengan mengirim malaikat, menurunkan hujan untuk
mereka minum dan mandi serta menjadikan kerasnya tanah di bawah mereka
sehingga tidak berdebu. Juga dijadikannya mereka mengantuk sehingga
membuat mereka tenang dan tentram. Dan bagaimana Dia menimbulkan rasa
takut dalam hati musuh-musuh mereka dan menurunkan siksaan yang pedih
kepadanya.
Oleh
karena itu, diperintahkan-Nya kaum muslimin supaya bersikap mantap
dalam setiap peperangan meskipun pada mulanya mereka terpana oleh
kekuatan musuh. Pasalnya, pada hakekatnya Allahlah yang membunuh lawan,
yang memanah dan yang mengatur. Sedangkan mereka hanyalah sebagai alat
pelaksanaan qadar dan qudrat Allah saja. Mereka hanya digunakan Allah
untuk melakukan apa yang dikehendaki-Nya.
Kemudian diejeklah kaum musyrikin yang sebelum
peperangan meminta keputusan. Lalu, ditimpakan kepada mereka bencana
dari golongan yang lebih sesat dan memutuskan kekeluargaan. Allah
berfirman kepada mereka, jika kamu (orang-orang musyrikin) mencari
keputusan, maka telah datang keputusan kepadamu; dan jika kamu berhenti.
Maka Itulah yang lebih baik bagimu dan jika kamu kembali, niscaya Kami
kembali (pula) dan angkatan perangmu sekali-kali tidak akan dapat
menolak dari kamu sesuatu bahayapun, biarpun Dia banyak dan Sesungguhnya
Allah beserta orang-orang yang beriman. (QS. Al anfal:19)
Allah melarang kaum mukmin menyerupai sikap
orang-orang munafik yang mendengar tetapi tidak mendengar karena tidak
memenuhi perintah.
Pelajaran
ini disudahi dengan mengulang beberapa seruan kepada orang-orang yang
beriman, supaya memenuhi panggilan Allah dan rasul ketika mereka diseru
kepada sesuatu yang menghidupkan hati dan pikiran mereka, meskipun
dibayang-bayangi oleh kematian dan peperangan. Diingatkan-Nya bagaimana
dulu mereka berjumlah sedikit dan lemah kondisinya serta takut dibunuh
musuh. Kemudian allah melindungi mereka dan membinasakan musuh-musuh
mereka dengan pertolongan-NYa.
Allah
akan menjadi furqon ‘daya pembeda’ di hati mereka dalam seluruh gerak
mereka jika mereka bertakwa kepada-Nya. Disamping itu akan dihapuskan
kejelekan-kejelekan mereka dan diampuni dosa-dosa mereka. Lebih dari
itu, mereka juga menantikan karunia Allah yang bila dibandingkan dengan
harta rampasan maka harta rampasan itu kecil dan tak bernilai.
Harta rampasan dan sifat-sifat orang beriman yang sebenarnya
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأَنفَالِ قُلِ
الأَنفَالُ لِلّهِ وَالرَّسُولِ فَاتَّقُواْ اللّهَ وَأَصْلِحُواْ ذَاتَ
بِيْنِكُمْ وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ -١-
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ
قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً
وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ -٢- الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ
وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ -٣- أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ
حَقّاً لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
-٤-
1.
Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang.
Katakanlah: "Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul, oleh sebab
itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara
sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah
orang-orang yang beriman."
2.
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut
nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya
bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka
bertawakkal.
3. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.
4. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.
3. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.
4. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.
Dalam
perkenalan secara global terhadap surat ini, sudah kami sebutkan
beberapa riwayat tentang sebab turunnya ayat-ayat ini. Kemudian kami
tambahkan riwayat-riwayat lain untuk menambah kesan tentang suasana
ketika surat ini diturunkan secara keseluruhan. Juga ayat-ayat yang
berkenaan dengan harta rampasan perang secara khusus. Tidak lupa juga
kami paparkan sifat-sifat riil kaum muslimin dalam menghadapai perang
besar yang pertama setelah berdirinya daulah islamiah madinah.
Dalam tafsirnya ibnu katsir mengatakan bahwa Imam Abu Dawud, An Nasa’ie, Ibnu Jarir, Ibnu Mardawih, Ibnu Hibban dan Hakim meriwayatkan dari beberapa jalan dari Dawud Bbin Abi Hind, dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata, “Pada waktu perang badar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berbuat begini dan begini maka ia akan mendapatkan ini dan ini.” Maka para pemuda bergegas turut berperang dan tinggalah orang-orang tua yang bernaung di bawah bendera. Setelah mendapatkan harta rampasan maka datanglah mereka untuk meminta harta rampasan perang yang diperuntukkan untuk mereka. Lalu orang-orang tua berkata, “jangan mengabaikan kami, karena kami menjadi mantel bagi kalian. Kalau kalian terdesak tentu akan kembali kepada kami.” Lalu mereka bertengkar. Kemudian Allah menurunkan ayat, “Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: "Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul, oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman."
Dalam tafsirnya ibnu katsir mengatakan bahwa Imam Abu Dawud, An Nasa’ie, Ibnu Jarir, Ibnu Mardawih, Ibnu Hibban dan Hakim meriwayatkan dari beberapa jalan dari Dawud Bbin Abi Hind, dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata, “Pada waktu perang badar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berbuat begini dan begini maka ia akan mendapatkan ini dan ini.” Maka para pemuda bergegas turut berperang dan tinggalah orang-orang tua yang bernaung di bawah bendera. Setelah mendapatkan harta rampasan maka datanglah mereka untuk meminta harta rampasan perang yang diperuntukkan untuk mereka. Lalu orang-orang tua berkata, “jangan mengabaikan kami, karena kami menjadi mantel bagi kalian. Kalau kalian terdesak tentu akan kembali kepada kami.” Lalu mereka bertengkar. Kemudian Allah menurunkan ayat, “Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: "Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul, oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman."
Ats Tsauri meriwayatkan dari al Kalbi, dari abu
shalih dari ibnu Abbas bahwa ia berkata, “Pada waktu perang badar,
Rasulullah bersabda, “Barangsiapa membunuh seorang musuh, maka ia
mendapatkan begini dan begini dan barangsiapa membawa seorang tawanan
maka ia mendapatkan ini dan ini.” Maka datanglah abu Yasir dengan
membawa dua orang tawanan. Lantas dia berkata, “Wahai rasulullah,
mudah-mudahan Allah memberi rahmat kepadamu. Engkau telah berjanji
kepada kami.”
Lalu Saad bin Ubadah berdiri dan berkata,
“Wahai rasulullah kalau engkau berikan kepada mereka itu, niscaya
sahabat-sahabatmu tidak mendapatkan apa-apa lagi. Sesungguhnya yang
menghalangi kami melakukan hal ini bukan karena kami tidak menginginkan
pahala atau takut kepada musuh. Tetapi kami berada di tempat ini hanya
untuk menjagamu karena kami takut musuh akan menelikung dari belakang.”
Kemudian mereka bertengkar. Lalu turunlah firman Allah Ta’ala, “Mereka
menanyakan kepadamu tentang harta rampasan perang, katakanlah harta
ramapasan itu kepunyaan allah dan rasul ……………….. “ kata Ibnu Abbas dan
turun pula firman Allah:
وَاعْلَمُواْ أَنَّمَا غَنِمْتُم مِّن
شَيْءٍ فَأَنَّ لِلّهِ خُمُسَهُ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى
وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ إِن كُنتُمْ آمَنتُمْ
بِاللّهِ وَمَا أَنزَلْنَا عَلَى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ
الْتَقَى الْجَمْعَانِ وَاللّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ -٤١-
“Ketahuilah,
Sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang,
maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, rasul, kerabat rasul, anak-anak
yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada
Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di
hari Furqaan, Yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa
atas segala sesuatu.” (Al Anfal: 41)
Imam
Ahmad mengatakan bahwa telah diceritakan kepadanyaya oleh Abu Muawiyah,
dari abu Ishak asy syaibani, dari Muhamad bin Abdullah ats tsaqafi,
dari Saad bin Abi Waqqas ia berkata, “Pada waktu perang badar, ketika
saudaraku umair terbunuh, maka saya bunuh Sa’id ibnul ‘Ash. Lalu saya
ambil pedangnya dan pedang itu bernama dzul kasyifah. Saya bawa pedang
itu kepada nabi dan beliau bersabda, “Pergilah dan lemparkan pedang itu
ke dalam kumpulan harta rampasan perang sebelum dibagi.” Lalu, saya
kembali dengan perasaan bergejolak karena terbunuhnya saudaraku itu dan
diambilnya harta rampasanku. Maka, tidak lama setelah saya berjalan,
turunlah surat al Anfal. Kemudian Rasulullah bersabda kepadaku,
“Ambillah rampasanmu.”
Imam
Ahmad juga menceritakan bahwa telah diceritakan kepadanya oleh Aswad
bin Amir dari Abu Bakar dari Ashim bin Abi Nujud. Dari Mush’ab bin Sa’ad
dari Sa’ad bin Malik ia berkata, “Wahai rasulullah, Allah telah
menyembuhkan saya dari serangan kaum musyrikin hari ini. Maka
berikanlah pedang ini kepadaku.” Beliau menjawab, pedang ini bukan
milikku dan milikmu, maka letakkanlah ia.” Kemudian saya letakkan pedang
itu, lalu saya kembali. Saya berkata, Mudah-mudahan pedang ini akan
diberikan kepada orang yang tidak menghadapi cobaan seperti saya.
Tiba-tiba
ada seseorang yang memanggil saya dari belakang. Saya berkata (dalam
hati). Apakah Allah telah menurunkan sesuatu berkenaan dengan saya?
Rasulullah bersabda, Engkau tadi minta pedang itu. Padahal ia bukan
milikku, maka ia sekarang kuberikan kepadamu. Dan Allah menurunkan ayat
ini,
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأنْفَالِ قُلِ الأنْفَالُ لِلَّهِ وَالرَّسُولِ (١)
mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian)
harta rampasan perang. Katakanlah: "Harta rampasan perang kepunyaan
Allah dan Rasul. imam abu dawud, tirmidzi dan Nasa’ie
meriwayatkannya dari beberapa jalan dari abu Bakar bin Iyasy. Imam
tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan sahih.”
Riwayat
ini menggambarkan kepada kita suasana ketika diturunkannya ayat-ayat
surat al anfal itu. Sungguh merinding seseorang ketika melihat para
peserta perang badar membicarakan harta rampasan perang. Padahal, mereka
adalah kaum muhajirin yang telah rela meninggalkan segala sesuatu untuk
berhijrah guna menyelamatkan akidah mereka, tanpa menghiraukan kekayaan
dunia sedikitpun. Sementara itu, orang-ornag anshar yang telah membantu
kaum muhajirin dengan merelakan harta dan rumah-rumah mereka untuk
dimakan dan ditempati bersama, tidak ada sedikitpun yang bakhil terhadap
kekayaan dunia sebagaimana disinyalir Allah dalam firman-Nya:
وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُوا الدَّارَ
وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا
يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى
أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ
فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ -٩-
“dan
orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman
(Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor)
'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka
(Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang
diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan
(orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka
dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya,
mereka Itulah orang orang yang beruntung.” (QS. Al Hasyr:9)
Akan tetapi, kita dapati sebagian tafsir membawakan beberapa riwayat yang memaparkan fenomena ini.
Harta rampasan pada waktu itu berhubungan dengan cobaan yang baik dalam peperangan. Dengan begitu, ia menjadi bukti cobaan yang baik itu. Pada waktu itu orang-orang pada berambisi mendapatkan bukti atau kesaksian ini dari rasulullah dan dari Allah, dalam peperangan pertama untuk mengobati hati mereka dari sakit hati terhadap orang-orang musyrik. Ambisi ini telah menutup dan mengalahkan persoalan lain yang dilupakan oleh orang-orang yang membicarakan surat al Anfal. Sehingga Allah mengingatkan mereka dan mengembalikan mereka kepada-Nya.
Akan tetapi, kita dapati sebagian tafsir membawakan beberapa riwayat yang memaparkan fenomena ini.
Harta rampasan pada waktu itu berhubungan dengan cobaan yang baik dalam peperangan. Dengan begitu, ia menjadi bukti cobaan yang baik itu. Pada waktu itu orang-orang pada berambisi mendapatkan bukti atau kesaksian ini dari rasulullah dan dari Allah, dalam peperangan pertama untuk mengobati hati mereka dari sakit hati terhadap orang-orang musyrik. Ambisi ini telah menutup dan mengalahkan persoalan lain yang dilupakan oleh orang-orang yang membicarakan surat al Anfal. Sehingga Allah mengingatkan mereka dan mengembalikan mereka kepada-Nya.
Wallahu a’lam.
